Bantuan pengairan di Desa Tatah Belayung Baru bukan sekadar aksi sosial, tetapi menjadi pesan bahwa menjaga lahan pertanian berarti menjaga ketahanan pangan dan keberlangsungan ekonomi masyarakat.
KalimantanTerbit.com, BANJAR – Di hamparan sawah Desa Tatah Belayung Baru, Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, suara mesin pompa air terdengar lebih berarti dibanding biasanya. Di tengah musim kemarau yang mulai mengurangi debit air di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, aliran air yang mengisi petak-petak sawah menjadi simbol bahwa harapan petani belum berhenti mengalir.
Di lokasi itulah Kerukunan Rakyat Banua Kalimantan (KERABAT) Kalimantan Selatan hadir, Sabtu (1/8/2026), membawa bantuan pengairan bagi lahan pertanian yang mulai terancam kekeringan. Langkah tersebut menjadi respons cepat terhadap persoalan yang setiap tahun menghantui sektor pertanian ketika musim kemarau tiba.
Bagi petani, kekurangan air bukan sekadar persoalan teknis. Setiap saluran irigasi yang mengering membawa konsekuensi terhadap produktivitas, pendapatan keluarga, hingga stabilitas pasokan pangan. Dalam kondisi seperti itu, kehadiran berbagai elemen masyarakat menjadi bagian penting dari upaya memperkuat daya tahan sektor pertanian.

Ketua KERABAT Kalimantan Selatan, Indra Jaya, mengatakan organisasi yang dipimpinnya ingin mengambil peran lebih dari sekadar wadah silaturahmi. Menurutnya, organisasi kemasyarakatan harus mampu hadir di lapangan dan menjawab persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Musim kemarau menjadi ujian bagi para petani. Kami ingin memastikan mereka tidak menghadapi tantangan ini sendirian. Bantuan pengairan ini diharapkan mampu menjaga tanaman tetap tumbuh dan mengurangi risiko gagal panen,” katanya.

Menurut Indra, menjaga sektor pertanian bukan hanya berbicara mengenai nasib petani, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan daerah. Ketika produksi pertanian terganggu, dampaknya akan dirasakan lebih luas, mulai dari ketersediaan bahan pangan hingga stabilitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, ia menilai kolaborasi antara masyarakat, organisasi sosial, dunia usaha, dan pemerintah menjadi kunci menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.
“Semangat gotong royong harus tetap menjadi kekuatan Banua. Tantangan sebesar apa pun akan lebih mudah dihadapi ketika seluruh elemen bergerak bersama. KERABAT berkomitmen terus menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung,” ujarnya.
Aksi tersebut juga menjadi bagian dari dukungan terhadap penguatan ketahanan pangan nasional sekaligus rangkaian semarak Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalimantan Selatan bertema ‘Tugul Maharagu, Bagawi Laju, Banua Maju’, serta menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di sisi lain, bantuan itu disambut hangat para petani. Taufik Rahman, warga Desa Tatah Belayung Baru, mengaku musim kemarau tahun ini mulai memengaruhi ketersediaan air untuk sawah. Menurutnya, bantuan pengairan memberikan harapan agar tanaman tetap bertahan hingga masa panen.
“Kami merasa sangat terbantu. Air adalah kebutuhan utama sawah. Semoga dengan bantuan ini tanaman tetap tumbuh baik dan hasil panen tidak menurun,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar menyalurkan bantuan, langkah KERABAT Kalsel memperlihatkan bahwa persoalan pertanian membutuhkan kepedulian bersama. Ketika perubahan iklim menghadirkan tantangan yang semakin kompleks, keberpihakan kepada petani menjadi investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan.
Di tengah musim kemarau yang belum menunjukkan tanda berakhir, setiap tetes air yang mengalir ke sawah bukan hanya menyelamatkan tanaman, tetapi juga menjaga optimisme para petani bahwa masa panen masih layak untuk diperjuangkan. (KT)
