Usung Filosofi “Waja Sampai Kaputing”, Fery Setiadi Siap Bawa Suara Kalimantan ke Muktamar IMM XXI

Kalimantanterbit.com, BANJARMASIN — Filosofi Banjar Waja Sampai Kaputing menjadi salah satu spirit yang dibawa Fery Setiadi dalam langkahnya sebagai calon Formatur Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) pada Muktamar IMM XXI.

Bagi Fery, Waja Sampai Kaputing bukan sekadar ungkapan khas masyarakat Banjar. Filosofi yang menggambarkan keteguhan dan semangat menyelesaikan perjuangan hingga tuntas itu menjadi prinsip yang ingin ia hadirkan dalam proses pencalonannya di tingkat nasional.

Ia berpandangan, kepemimpinan organisasi tidak cukup hanya bermodalkan gagasan. Setiap gagasan membutuhkan konsistensi, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kemampuan mengawal program hingga benar-benar dirasakan manfaatnya oleh kader dan masyarakat.

“Menjadi Formatur bukan soal posisi, tetapi soal menuntaskan tanggung jawab. Saya maju dengan semangat Waja Sampai Kaputing. Kita tidak akan berhenti di tengah jalan. Haram Manyarah sebelum IMM benar-benar menjadi gerakan yang dirasakan manfaatnya oleh umat dan bangsa,” tegas Fery dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, IMM membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat dalam merumuskan gagasan, tetapi juga memiliki daya tahan untuk mengawal pelaksanaannya hingga ke tingkat paling bawah.

Fery menilai, program organisasi yang baik harus mampu diterjemahkan secara konkret dan tidak berhenti sebagai konsep di tingkat pusat.

“Banyak program yang bagus di atas kertas, tetapi tidak sampai ke ujung, tidak sampai ke komisariat. Semangat Waja Sampai Kaputing bagi saya adalah memastikan setiap ikhtiar organisasi dituntaskan dan memberikan dampak nyata,” ujarnya.

Bawa Perspektif Kalimantan ke Panggung Nasional

Dalam pencalonannya, Fery juga membawa perspektif Kalimantan sebagai bagian dari kekayaan gagasan untuk IMM di tingkat nasional.

Menurutnya, keberagaman latar belakang kader merupakan salah satu kekuatan IMM sebagai organisasi mahasiswa yang memiliki jaringan di berbagai daerah Indonesia.

Ia menyebut dukungan dan komunikasi dengan kader IMM di Kalimantan Selatan maupun sejumlah daerah lainnya menjadi energi dalam mempersiapkan langkah menuju Muktamar IMM XXI.

“IMM adalah Indonesia mini. Harus ada suara Kalimantan di dalamnya. Dan suara itu akan saya bawa dengan semangat baja Banjar, Waja Sampai Kaputing,” katanya.

Fery menegaskan, membawa identitas kedaerahan ke tingkat nasional bukan berarti mempersempit cakupan gerakan. Justru, nilai-nilai lokal dapat menjadi sumber kekuatan dan kekayaan perspektif dalam membangun gerakan mahasiswa yang lebih luas.

Baginya, semangat lokal dan visi kebangsaan dapat berjalan beriringan. Nilai keteguhan yang tumbuh dari budaya Banjar dapat menjadi energi untuk menghadapi tantangan organisasi di tingkat nasional.

Menatap Muktamar IMM XXI

Muktamar IMM XXI menjadi forum penting bagi kader IMM dari berbagai daerah untuk menentukan arah kepemimpinan dan gerakan organisasi pada periode berikutnya.

Muktamar tersebut dijadwalkan berlangsung di Kalimantan Selatan pada Desember 2026.

Di tengah dinamika pencalonan Formatur, Fery Setiadi menawarkan narasi yang bertumpu pada semangat perjuangan kader, perspektif Kalimantan, serta filosofi Banjar Waja Sampai Kaputing.

Filosofi itu ia jadikan simbol keteguhan untuk terus berproses, menjaga komitmen, dan menuntaskan amanah hingga ke ujung perjuangan. (kt)